Kamis, 10 Juni 2010

Hapus Air Matamu

Cerpen ke-3
(Henny Septirianti)

Tema : Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya takkan pernah lekang oleh
waktu, begitu pula sebaliknya.

Jika ada orang bilang surga itu ada ditelapak kaki ibu. Mungkin itu pepatah yang tidak salah. Karena ibu adalah orang yang paling berjasa. Karena ia lah kita bisa terlahir dan hidup di dunia ini. Sosok yang sangat penting bagi anaknya. Begitu pula bagi Ara. Ara siswi kelas XII SMA. Dia sangat menyayangi ibunya, baginya ibu adalah orang yang paling disayanginya. Sejak lahir ia tidak pernah mengenal ayahnya. Ayah Ara meninggal saat Ara masih dikandungan. Mereka hanya hidup berdua di dunia ini.
Dan seperti biasa Ara harus menjalani tugas rutinnya, sebelum berangkat ke sekolah Ara harus mengantarkan kue buatan ibunya ke warung di ujung kompleks rumahnya.
“Bu, Ara pergi dulu ya.” Kata Ara sambil menyalami tangan ibunya.
“Iya. Hati-hati di jalan nak.” Jawab ibunya.
Ara tersenyum dan langsung keluar rumah. Ia pergi menggunakan sepeda kesayangannya. Sekitar 15 menit ia sudah sampai di warung. Dan menitipkan kuenya. Setelah itu ia langsung pergi ke sekolah karena hari sudah siang. Ia takut terlambat.
Seperti itulah kehidupan sehari-hari Ara. Ia ikhlas menjalani semua, karena ia sangat menyayangi ibunya. Meskipun tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia selalu bersyukur. Mungkin ia tidak punya banyak harta, tapi ia kaya akan kasih sayang ibunya. Sedikipun ia tidak pernah mengeluh karena ia tahu bahwa ibunya sudah bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua.
Ara sekolah di SMA yang terkenal di Palembang. Ia selalu mendapat beasiswa karena ia murid paling pintar di sekolahnya. Parasnya yang cantik ditambah otaknya yang pintar menjadikan ia primadona di sekoalahnya. Meskipun begitu ia tidak sombong, ia selalu ramah kepada semua orang. Sehingga ia punya banyak teman yang selalu menyayangi.
Hidup Ara sangatlah sempurna, dan Ara sangat bersyukur dengan nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ara selalu bahagia dengan hidupnya. Sampai pada hari sabtu, ia dipanggil oleh kepala sekolah. Kata kepala sekolah ada telepon dari rumah sakit. Ia harus segera ke sana. Segera Ara langsung menuju rumah sakit, ia bingung apa yang terjadi.
Setelah sampai di rumah sakit ia baru tahu kalau ibunya mengalami kecelakaan. Pada saat mengambil kue dipesanan, ibunya tertabrak mobil pribadi. Ara langsung shock, ia menangis. Ia takut ibunya akan meninggalkan ia. Setelah menunggu 2 jam di depan ruang gawat darurat. Akhirnya dokter yang menangani ibunya keluar.
“Dok, bagaimana keaadaan ibu saya?” tanya Ara dengan cemas.
“Ibu anda masih kritis, selalu berdo’a saja untuk dia” jawab dokterdan langsung pergi keruangannya.
Ara semakin cemas dan bingung. Apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa berdo’a. Semoga ibunya diberi perlindungan oleh Tuhan. Setelah 4 jam menuggu di luar akhirnya ia dipanggil oleh suster. Suster itu mengatakan kepadanya kalau ibunya selamat meskipun sekarang dalam keadaan kritis. Ara bersyukur, ia senang sekali.
Ia langsung ke ruangan dimana ibunya di rawat. Ia melihat ibunya. Di situ juga ada orang yang menabrak ibunya. Orang yang menabrak ibunya adalah lelaki separuh baya dan ia sangat menyesal. Ia berjanji kepada Ara akan bertanggung jawab dan akan membiayai seluruh biaya rumah sakit.
Ara kasihan melihat ibunya. Ibunya terbaring lemas. Tapi ia tidak pernah lelah berdoa’a agar ibunya diberi kesembuhan. Ia rindu senyuman ibunya. Setiap ia melihat ibunya, Ara selalu menangis. Ia takut kalau ibunya akan pergi meninggalkan ia.
Sudah seminggu Ara menunggui ibunya di rumah sakit, tidak pernah ada sedikitpun rasa lelah dalam dirinya. Meskipun setiap hari ia selalu menumpahkan air matanya untuk ibu yang ia sayangi. Keajaiban pun datang, siang itu ibunya siuman. Dan sudah mulai membaik.
Dan kini ibunya sudah bisa berbicara. Kata pertama yang diucapkan ibunya kepada ara adalah “jangan menangis Ara, hapus air matamu. Ibu kan selalu ada di sampingmu”.

-----------------------------------
(Palembang, 7 Juni 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar